Penentuan Struktur Senyawa Terpenoid
Terdapat
hubungan antara biosintesis, metode isolasi, dan penentuan stuktur senyawa
bahan alam sangatlah erat. Ketiga proses tersebut terjadi secara berurutan.
Suatu senyawa bahan alam terlebih dahulu di sintesis agar diketahui proses/
reaksi kimia yang terjadi dalam memperoleh senyawa kimia yang diinginkan.
Setelah itu diisolasi dengan metode tertentu agar dapat dipisahkan dari senyawa
lain yang terkandung di dalamnya. Dengan melakukan isolasi suatu senyawa, maka
kita dapat menentukan struktur dari senyawa tersebut
PENENTUAN STRUKTUR TRITERPENOID PADA
KULIT BATANG AVICENNIA MARINA NEESH
Kandungan triterpenoid pada kulit
batang Avicennia marina Neesh, bersifat polar dalam bentuk kristal
jarum berwarna putih yang beratnya
0,98 gram, titik leleh 265 - 266 Co, uji FeCL3
memberikan warna hi-jau tua. Uji
kromatografi lapis tipis terhadap kristal
jarum hasil isolasi dengan berbagai
variasi eluen dengan penampakan noda larutan Antimon klorida
(SbCl3) berwarna merah dengan
Rf0,8
Pengujian kristal dengan pereaksi
Liebermann-
Burchard menunjukkan adanya
triterpenoid dengan
terbentuknya senyawa warna merah
jingga. Spektra UV terhadap kristal yang dihasilkan tersebut menun-
jukkan pita serapan pada daerah
panjang gelombang
200-400 nm. Transisi yang terjadi
adalah transisi n−n
∗
dan diduga senyawa tersebut
mengandung gu-gus karbonil yang tak terkonjungasi.
Analisa kristal jarum hasil isolasi
menggunakan
Spektrofotometer Infra Merah dengan
lempeng KBr
menunjukkan serapan pada daerah
bilangan gelom-
bang (cm−1) 3589,1 (1); 3448,1 (k); 2931,0
(k); 2848,7 (l); 2719,4 (l); 2613,7 (s); 1684,0 (k); 1642,8 (l); 1454,8
(k); 1376,5 (k); 1232,6 (k); 1105,0
(s); 1038,4 (k); 883,4 (k). Berdasarkan data yang muncul di atas dapat dilihat
bahwa serapan ulur C−H berada pada daerah bi-
langan gelombang 2931,0 cm −1; 2848,7 cm−
1;
2719,4 cm−1 dan2613,7 cm − 1
. Bilangan gelombang 1684,0cm – 1 (k) dan 1642,8 cm
−
1
(l) menunjukkan adanya
gugus karbonil (C=O) yang pita
serapannya diperkuat
oleh pita serapan pada bilangan
gelombang 1232,6 cm −
1 (k)
untuk ulur C –C −C. Bilangan gelombang
1105,0 cm
−
1 (s)
yang karakteristik untuk tekuk keton C−C (=O−C. Pita serapan pada bilangan
gelombang
1376,5 cm
−
1menunjukkan
serapan oleh gugus gem-dimetil, sedangkan pada 1454,8 cm
−
1menunjukkan adanya serapan −CH2
-lingkar.
Pita serapan pada daerah panjang
gelombang
3448,1 cm−1 menunjukkan adanya vibrasi ulur gugus
O−H yang merupakan pita serapan untuk gugus alko-hol. Pita serapan bersebut
diperkuat oleh serapan
pada daerah bilangan gelombang
1105,0 cm-1 menunjukkan serapan
−C−O−
. Jika O−H yang di-maksud adalah
gugus karboksilat, maka pita serapan gugus O −H pada daerah panjang gelombang
3300-2500 cm−1
harus kuat dan sangat lebar yang
ber-pusat di daerah panjang gelombang dekat 3000 cm− 1
.
Gugus karboksilat juga harus
diperkuat dengan pita
serapan ulur C − O pada daerah di
dekat 1315-1280 cm − 1
dan vibrasi tekuk C – O − H pada
daerah bila-
ngan gelombang dekat 1440-1395 cm
−
1
. Analisa sementara dari hasil
spektra Infra merah diduga bahwa
senyawa triterpenoid yang dimaksud
adalah senyawa
tritrepenoid yang memiliki kerangka
keton dengan gugus pengikat alkohol.
Kesimpulannya :
senyawa yang dideteksi ini adalah senyawa triterpenoid pentasiklik turunan
keton yang termasuk golongan Friedelin. Senyawa ini memiliki gugus hidroksi
pada atom C21dengan titik lelehnya 265◦-266◦C,
dan dari berat molekul 440, rumus molekul yang diduga adalah C30H48O2. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa hasil analisis secara keseluruhan menyatakan bahwa senyawa triterpenoid
yang diidentifikasi adalah
21-Hidroksi-4(23)-Friedelen-3-Oxo dengan struktur molekul seperti pada gambar
berikut .
Dari metode analisi untuk penentuan struktur terpenoid pada batang Avicennia
BalasHapusmarina Neesh pita serapan memiliki panjang gelombang yang berbedabeda,
Spektra
UV terhadap kristal yang dihasilkan tersebut menunjukkan
pita serapan pada daerah panjang gelombang
200-400 nm.
Pita serapan pada daerah panjang gelombang
3448,1 cm−1 menunjukkan adanya vibrasi ulur gugus, O−H yang merupakan pita serapan untuk gugus alkohol.
Pita serapan bersebut diperkuat oleh serapan
pada daerah bilangan gelombang 1105,0 cm−1,
apa yang menyebabkan pita serapan memiliki panjang gelombang yan berbeda-beda???
baiklah saudari dede saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda, salah satu yang menyebabkan pita serapan memiliki panjang gelombang yang berbeda - beda itu karna adanya "efek isotop" yang terjadi pada senyawa daun pare tersebut,
BalasHapusmoga bsa membantu :)
Berdasarkan literatur yang saya baca, adapun yang menyebabkan pita serapan memiliki panjang gelombang yang berbeda adalah tergantung penggunaan analisa yang kita gunakan. Misalnya analisa yang kita gunakan adalah spektrum IR, dimana spektrum ini berdasarkan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan dan jauh. Infra merah pada spektrofotometer adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000μm. Pada spektrofotometer IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektrofotometer IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik. Setiap serapan pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu gugus fungsi spesifik.
BalasHapusSemoga dapat membantu..